Teori Waktu (Henry Bergson)
Pernahkan anda merasakan perbedaan ketika anda berada dengan seseorang yang anda sayangi, dengan berada dalam situasi yang tidak anda senangi. ketika anda berada disamping orang yang anda sayangi waktu satu jam yang anda habiskan akan terasa menjadi semenit bahkan terasa kurang. berbeda dengan ketika anda pada sesuatu yang anda tidak senangi, semisal ketika dalam test ujian karya ilmiah anda pribadi, waktu sejam didepan penguji berasa berjam-jam. padahal dari dua kejadian ini waktu yang digunakan adalah satu jam yang sama, namun terasa berbeda.
inilah salah satu contoh teori waktu menurut salah satu filosof Fracis Henri Bergson waktu terbagi menjadi dua; waktu matemaatis (objectif) dan waktu murni atau waktu duree- durasi.
waktu matematis adalah waktu yang kita lihat di jam, kalendar, dan dijadwal-jadwal. ada beberapa jam, menit, bulan, dari terbit matahari sampai terbenam, ini yang dimaksud dengan waktu matematis, yaitu waktu objektif yang sering kita lihat dan dengar.
waktu murni atau durasi ini bersifat subjectif, ada yang merasa kerja delapan jam itu terasa lama dan ada yang merasakan kerja delapan jam itu kurang, seperti hal contoh diawal paragraf, hal ini bergantung pada subject individunya itu sendiri.
menurut bergson justru durasilah waktu yang nyata, kita memahami dunia dengan durasi, sifatnya subjectif, hanya berlaku bagi kita.
kesadaran kita adalah kesadaran hidup kita. dalam memahami waktu atau jam kerja misalnya, kita memahami kesadaran waktu yang didalam diri kita masing-masing, sesuai dengan durasi kita masing-masing sehingga ada yang merasa terlalu lama dan ada yang merasa terlalu cepat. maka kata bergson yang riil adalah durasi. dan ini berhubugan dengan kebebasa manusia.
“usually when we speak of time we think of the measuremen of duration, and not duration it self, but this duration which science eliminates, and which is so difficult to conceive and express, is what one feels and lives”.
ketika kita membicarakan waktu, ukuran waktu yang kita bicarakan adalah durasi itu sendiri. durasi inilah yang dibuang oleh sains, dimana sains hanya membicarakan waktu objectif.
kita hidup berdasarkan waktu subjectif, waktu yang kita pahami bukan bilangan panjang atau pendeknya, waktu objectif bukan sekadar satu atau dua jam- tetapi kita memahaminya sebagai “lama” dan “sebentar” dan itulah waktu subjectif yang menghubungkan dengan kedaran dan penghayatan kita.
6 ramadhan 1447
Komentar
Posting Komentar