Berpindahlah Dari makhluk kepada yang maha pencipta seluruh makhluk (Hikmah ke 42: Alhikam ibn Athailah)

 

Janganlah anda berpindah dari makhluk satu ke makhluk lainnya, sehingga anda seperti keledai penggilingan dimana tempat yang di tuju adalah tempat ia pergi, akan tetapi berpindahlah dari makhluk kepada yang maha pencipta seluruh makhluk.

 

Perhatikanlah firman allah: dan sesungguhnya kepada Tuhanmu lah kesudahannya (segala sesuatu) (qs annajm [53]:42). Perhatikan sabda rosul allah saw.: "Barang siapa hijrahnya [yang dituju] adalah allah dan rosulnya, maka hijrahnya[akan sampai] kepada allah dan rosulnya. Barang siapa [yang dituju] adalah dunia yang hendak dia gapai dan wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya [akan sampai] kepada yang ia tuju". Pahamilah sabda rosul allah saw. Dan renungkan perkara ini, jika anda masih memiliki pemahaman.

    Dibuka oleh pensyarah (Syaih Ramadhan Albuthi) dengan penggambaran dimana makhluk (segala sesuatu selain allah), kedudukannya sebagai sebab (sarana). khaliq adalah puncak segala tujuan dan harapan.

Menurut beliau, Jika seseorang telah benar-benar mengenal allah dan beriman, maka harus dijadikan seluruh dimensi kehidupan (aktifitas, urusan, tujuan) untuk mencari rido allah. Jika hal ini terjadi pada seseorang maka dia sudah menyelaraskan antara berbagai sarana (sebab) dengan tujuan terbesar yang menjadi puncak tujuan.

Ketika seseorang menggunakan sarana untuk mencapai tujuan sarana yang lain, menggapai sebab-sebab tertentu untuk menggapai sebab yang lain,  dan menghabiskan seluruh hidupnya dengan orientasi tersebut, maka dia seperti keledai penggilingan. Artinya berjalan dan berputar pada satu medan yang terkunci. Ketika dia berjalan dia akan kembali ke awal dimana dia memulai, dan mengulang ini terus menerus tanpa berhenti.

Kesimpulan sarana yang ada pada hidup ini harus menjadi fasilitas mencapai tujuan puncak, yatu allah.

Ditambah penjelasan, bahwa seseorang yang hanya berputar mengulang terus menerus terkunci dalam satu medan, berputar menggerakkan mesin menurut perintah pemiliknya. Hal ini menggambarkan diamana manusia yang orientasinya adalah untuk mendapatkan, penghidupan, makanan, minuman, dan tidak pernah melampauinya. Dimana orientasinya tidak pernah keluar dari lingkaran yang terkunci, hal ini seperti yang dilakukan oleh hewan. Yang dicari kesenangan dan penghidupan, kemudian kembali  terus mencari kesenangan dan penghidupan sampai meninggalkan kehidupan dunia ini.

Syaikh Ramadhan Albuthi ini menegaskan bahwa, dia berbicara dan menulis pembahasan ini, hanya kepada  orang yang beriman kepada allah dengan iman yang hakiki, bukan dengan orang yang masih ingkar akan adanya yang maha pencipta. Beliau tidak berbicara dengan manusia yang orientasi hidupnya hanya untuk makan, karena makan itu adalah kebutuhan naluri yang tidak perlu didiskusikan. 

Syaikh Ramadhan albuthi menegaskan kembali dengan pengibaratannya: 

jika semua yang allah ciptakan ciptaan-Nya ini, dari mulai fasilitas dunia yang kita nikmati hanya untuk bersenang-senang dan bahagia yang timbul karena hal itu semua, lantas bagaimana jika sudah meninggalkan dunia ini, berarti selesai sudah tujuan allah menciptakan ini, dan ini tidak masuk dilogika. dari hal ini apakah manusia diciptakan untuk kesia-siaan, dan ini pun dibantah oleh allah dalam surat Al Mu'minun 115-116.

Jadi semua yang allah ciptakan ini adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada allah swt, dan ini menjadi ringkasan dari apa yang diucapkan dalam hikmah ke-42 ini:

"Ketahuilah bahwa alam semesta sisinya yang ditundukkan untuk anda hanyalah jalan dan sarana yang ditundukkan untuk anda, semuanya agar anda menggunakannya untuk  menghadap allah. oleh sebab itu anda jangan merekatkan hati kepada semua itu (sarana), dan memenjarakan diri anda dalam belenggunya, jangan sampai semua itu membuat anda lupa akan perjalanan anda sesungguhnya menuju allah"

ada dua contoh orang dalam memandang sarana ini Menurut Pensyarah, 
  1.   pertama, dalam tatapan akidah
Seseorang hanya melihat semua fenomena alam ini sebagai rangkaian seba akibat, seperti hanya para peneliti, semisal ketika melihat awan yang menggumpal, dia menganalisis sebab fenomena tersebut, lalu semua dikembalikan kepada kinerja alam semesta yang disebut hukum alam. dari mulai analisa gumpalan awan tersebut dari uap air laut, kemudian menjadi awan dan seterusnya, fokus pada sebab-sebab yang terjadi dan tidak ada habisnya, jadi tidak berujung kepada allah swt.

  2.   kedua, dalam tataran perilaku.
Dimana orang hanya menyaksikan kehidupan dimana allah memenuhi dengan beragam dan kenikmatan, dia mencari perbendaharaan dunia secara terus menerus, ketika melihat kesehatannya berkurang dia mencari pengobatan kesana kemari, ketika harta berkurang dia pun mencari dengan semaksimal mungkin untuk menambah kembali, dan sampai seterunya.

Hikmah Ibnu Athailah menuturkan : akan tetapi berpindahlah dari makhluk kepada yang maha pencipta seluruh makhluk.  dari penututan ini syaikh ramadhan albuthi menjelaskan, bahwa hikmah ini menunjukan bahwa manusia tidak ditugaskan untuk berpaling dari makhluk-makhluk yang telah allah tundukan untuknya, manusia diperintahkan untuk memperhatikan dan memanfaatkan makhluk tersebut sebagai sarana yang akan membawanya kepada allah uang maha menciptakan segala makhluk.

dan dari hikmah ini semua, bahwasanya kesehatan itu penting, karya benda itu suatu kenicayaan, memiliki tempat tinggal itu adalah kenikmatan, membangunkan keluarga melalui jalan pernikahan adalah kebaikan yang luar biasa, industri perdagangan, ilmu dan pengetahuan, itu semua harus diposisikan sebagai sarana untuk menjalankan tugas yang menjadi manusia diciptakan.


Wallahu a'lam

mudah-mudah bermanfaat 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Buku : Buku Panduan Lima Jari karya Edward Suhadi

Speaking Skill: Kunci Sukses Dalam Bidang Apapun